Selasa, 25 Agustus 2015

THE TRUE HERO




Oleh: Istiqomah

Sahabat semua yang disayangi Allah, pasti kalian tidak lupa bukan dengan Hari Pahlawan  tepatnya 10 November. Setiap tahun di bulan November, sebelum ataupun sesudah peringatan hari pahlawan, selalu ada cerita dan semacam nasehat tentang kepahlawanan. Setelah beberapa bulan kemudian, mungkin hanya tinggal wacana saja. Cerita dan nasehat tersebut ternyata belum sampai di hati, belum menyatu dengan aliran darah. Seperti masuk telinga kanan langsung keluar telinga kiri.

Nasehat-nasehat itu tidak direnungkan, tidak mendapat apresiasi dan parahnya tidak diterapkan. Just convertation. Basa-basi. Buktinya sudah banyak November yang berlalu dan sudah banyak cerita dan nasehat kepahlawanan yang diceritakan, namun tetap saja persoalan-persoalan tentang carut-marutnya kehidupan hidup menjamur di antara kita. Manusia seperti tidak mempunyai arah, tidak mempunyai pandangan, ikut terseret dengan teori-teori keduniaan  seperti materialisme, hedonisme, egoisme, dan isme-isme buruk lainnya yang susah membedakan mana yang baik, mana yang buruk.
Banyak orang yang kemudian lupa dengan apa yang mereka tau, apa yang mereka lihat, dan apa yang mereka dengarkan. Lupa menerapkan secara utuh apa yang dipikirkan dan apa yang dibicarakan seputar hari pahlawan. Akan sama (nanti) dengan orang yang membaca tulisan ini, kembali seperti orang yang tidak mengerti arti pahlawan. Mengapa? Seperti nonton film Harry Potter, yang ditangkap dan diingat dari sisi yang enak dipandang saja. Sedangkan isinya; pesannya terhijab (terkaver) dengan hal-hal yang memukau mata. Alhasil, yang ada hanya “wah” nya saja.
Masih banyak di antara kita yang belum paham dengan esensi pahlawan.  Apa itu pahlawan? Sederhananya, pahlawan itu adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Apapun perannya, statusnya, besar-kecil sumbangsihnya, yang ditekankan adalah segi manfaat. Nah, jika kita sudah paham esensi dari pahlawan, maka siapapun yang menolong kita baik secara langsung maupun tidak langsung, ia disebut pahlawan.
Ketika kita dihadapkan dengan definisi bahwa pahlawan adalah orang yang bermanfaat, kita akan lebih menghargai banyak orang. Kita bisa menghargai orang-orang yang telah menggoreskan warna manfaat di kehidupan kita.
Manusia yang sadar bahwa manfaat adalah sebuah tindakan kepahlawanan, akan terus berusaha untuk memberi manfaat apa saja, dan bagaimana pun caranya. Bukankah dengan “manfaat” kemungkaran bisa ditekan? Bayangkan jika dunia tidak ada rasa saling menghargai satu sama lain? Yang menyebabkan dunia ini amburadul adalah karena kita dipenuhi orang-orang yang tidak bisa menghargai. Ada potensi tidak tahu terimakasih di dalam diri kita? Itu berbahaya. Be careful!
 
Maka ingatlah mereka; keluarga, guru, teman, dan orang-orang yang berjasa lainnya dalam kehidupan kita. Rasa saling menghargai akan terbentuk jika kita mengingat kebaikan-kebaikan yang mereka lakukan kepada kita, dan ujungnya adalah terbangunnya keharmonisan di dalam hidup. Kesalahan akan otomatis terlupakan ketika kita terfokus untuk mengingat kebaikan-kebaikan dengan cara memaafkan.
Mereka, pahlawan-pahlawan kita adalah bagian yang amat sangat penting yang terkait dalam menunjang hidup kita.  Kita tidak akan bisa sampai seperti sekarang tanpa bantuan-bantuan orang lain, dan semua pencapaian yang sudah kita capai tidak bisa lepas dari peran pahlawan-pahlawan itu. Kita hidup sebenarnya saling mempengaruhi hidup orang lain. Masing-masing punya peran sendiri yang menunjukan titik kepahlawanan untuk hidup orang lain. Maka kita harus terus mengasah jiwa kepahlawanan kita dengan menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, tapi bukan sok pahlawan atau sok jagoan, karena itu beda lagi urusannya.
Jadi tidak perlu berat-berat berpikir tentang kepahlawanan. Berpikir dan lakukan yang sederhana dulu. Jadilah pahlawan bagi hidup diri sendiri, hidup orang lain, dan kehidupan. Seperti yang Aa Gym katakan, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, mulai dari sekarang.” Dan, satu lagi sabda Nabi Muhammad SAW; ia rahmat bagi semesta alam, pahlawan terhebat sepanjang masa. Rasulullah pernah berkata, “Khoirunnas Anfauhum Linnas.” Manusia  yang paling baik adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

GEMA RAMADHAN (Kajian Bersama Laziz Al-Haromain Bangkalan)

Meningkatkan Iman, Bukan Hanya Resolusi Ramadhan 👳🏻‍♂️ Ust. Moh. Sofa Faudi, S.Psi. • Iman artinya meyakini dalam hati, mengucapkan dengan...