Sabtu, 26 November 2011

MENGGALI HIKMAH TAHUN BARU HIJRIYAH

Oleh : Yanuari Dwi Prianto
--------------------------------------------------
Setiap awal pasti akan berujung akhir. Seperti kita ketahui bersama bulan dzilhijjah telah menemui penghujungnya, genap sudah 30 hari, yang itu juga berarti bahwa tahun Hijriyah yang ke 1432 telah berakhir. Dan itu juga berarti sebuah awal baru akan muncul, yaitu tahun baru, bulan baru dan insya Allah semangat dan kehidupan baru. Insya Allah setiap kita sebagai seorang muslim telah mengisi tiap waktu di tahun lalu dengan sebaik-baiknya.
Saudaraku yang berbahagia, bersama kita telah memasuki tahun baru pada penanggalan Islam, yaitu yang jatuh pada tanggal 1 muharrom. Sebagai seorang muslim tentunya kita tahu bahwa penetapan tanggal 1 muharram sebagai tahun baru islam juga penetapan tahun dan kalender hijriyah adalah berdasar pada sejarah besar umat islam yaitu peristiwa hijrah(berpindah)nya Rasulullah SAW dari makkah ke madinah yang pada masa itu masih bernama yastrib, peristiwa ini merupakan ruh baru bagi umat islam, batu loncatan dalam perubahan besar dari terhina menjadi mulia, dari tertindas menjadi bebas, dan dari peristiwa hijrah inilah Islam memulai kejayaannya. Terlepas dari itu, perlu kita perhatikan lagi bahwa sebelum tanggal 1 muharrom terdapat beberapa moment/peristiwa yang sangat penting bagi umat Islam, diantaranya : bulan suci ramadhan, idul fitri pada 1 syawal, dan ibadah haji di bulan dzulhijjah.
Maha Kuasa Allah yang membuat sekenario kehidupan, “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dia-lah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan(waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. …”(QS.10:5). Ada hikmah apa dibalik tahun baru hijriyah berkaitan dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya? Mari kita telaah bersama!
Saudaraku yang di rahmati Allah, tentunya ketika seseorang atau sekelompok orang ingin berpindah dari sebuah tempat ke tempat lain, dari sebuah tahapan ke tahapan lain, untuk meninggalkan yang lama dan menyambut yang baru, entah itu physically ataupun spirituality, pasti membutuhkan sebuah bekal dan persiapan. Dan inilah poin intinya, sebelum kita menyambut tahun baru, peristiwa baru ataupun tahapan baru dalam kehidupan kita, Allah menghendaki kita untuk sempurna dalam persiapan meraihnya, dan Allah pun sudah membuat pertahapan proses yang detail untuk kita jalani.
Pertama adalah Ramadhan, pada bulan ini kita diwajibkan untuk berpuasa, dan mengeluarkan zakat, di sunnahkan untuk memperbanyak bacaan al-Qur’an, melaksanakan qiyamul lail dan amal ibadah lain. Puasa merupakan sebuah ritual yang dilaksanakan untuk mengekang hawa nafsu dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Hanya hawa nafsu pada bulan ini yang harus kita kendalikan, karena “Pada bulan puasa syatan-syaitan diikat, ….” (H.R. Bukhari), sehingga setiap kesalahan yang kita lakukan pada bulan ini itu murni karena kekhilafan kita bukan karena godaan syaitan. Jadi ibadah puasa adalah ibadah untuk memerangi hawa nafsu(syaitan pada internal diri kita) bukan syaitan yang menggoda kita. Dalam bulan inipun ketika kita melaksanakan ibadah puasa dengan totalitas kita berkesempatan untuk mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah, dijauhkan dari api neraka, dan mendapatkan malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan. Bukan lain semua itu ditujukan untuk kita mencapai derajat taqwa di sisi Allah SWT.
Kedua adalah Idul fitri, pada hari ini, setiap muslim menghiasinya dengan banyak maaf-memaafkan dan mempererat silaturrahim. Agar lebur setiap dosa, kesalahan, dan kelalaian kita terhadap sesama manusia, serta erat ukhuwah islamiyahnya.
Ketiga adalah serangkaian peristiwa dzulhijjah yang didalamnya terdapat qurban dan ibadah haji. Dalam hikmah berqurban mengaca dari peristiwa Nabiyullah Ibrahim as dan ismail as dapat kita pahami bahwa kita harus menyembelih kecintaan kita kepada sesuatu yang bersifat duniawi agar kecintaan pada hati kita murni teruntuk Allah. Ibadah haji merupakan ibadah penyempurna rukum iman kita yang wajib dilaksanakan satu kali bagi yang mampu. Dan pada salah satu prosesi ibadah haji adalah lempar jumrah di Mina, yang merupakan bentuk pengusiran dan perlawanan terhadap syetan yang menggoda dan menjerumuskan kita.
Begitulah, setelah kita bersih dari hawa nafsu diri pribadi, tahan akan godaan syaitan yang menguji, bersih khilaf dan dosa dari sesama hingga kita menjadi insane yang bertaqwa, maka sempurnalah dan telah siaplah diri kita untuk dapat menyambut kehidupan baru (hijrah kepada sebuah kondisi yang lebih baik dari sebelumnya).
Sebuah tips untuk kita dalam menghadapi tahun baru ini dengan berkaca pada uraian diatas adalah :
1.    Ambil hikmah Hijrah
Pelajari detail sirah rasulullah pada masa-masa menjelang, pada saat, dan setelah hijrah. Bagaimana perjuangan beliau dan para sahabat. Juga sejarah dan dasar penetapan penanggalan hijriyah pada masa Kekhalifahan Umar bin Khattab, bandingkan dengan sejarah dan dasar penetapan penanggalan pada umat agama selain islam. Insya Allah, dengan mempelajari hal diatas kita akan lebih paham tentang esensi tahun baru hijriyah sebagai dasar pijakan kita untuk menyikapinya.
2.    Muhasabah
Momen tahun baru merupakan waktu yang tepat bagi kita untuk muhasabah/ introspeksi diri, koreksi diri kita untuk mengukur sebaik mana prestasi amal ibadah juga muamalah pada satu tahun sebelumnya. Sebagai bahan bagi kita untuk menentukan peta langkah untuk menjadi lebih baik pada tahun berikutnya, agar kita menjadi orang yang beruntung, bukan yang merugi ataupun celaka, sebagaimana hadist yang disampaikan oleh rasulullah, “Barang siapa yang keadaan amalnya hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka ia celaka. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung." (HR. Bukhari).
3.    Buat Rencana
Berdasarkan hikmah kisah hijrah dan muhasabah pada poin diatas, berikutnya adalah tetapkan rencana kehidupan, target-target prestasi (dari berbagai aspek, finansial, spiritual, emosional juga intelektual) yang harus kita raih satu, dua atau beberapa tahun kedepan, dokumentasikan dalam sebuah kertas, majalah dinding atau buku pribadi, jangan Cuma diingat karena setiap ingatan adakalanya hilang, karena manusia tidak akan luput dari lupa.
Semoga kita tergolong sebagai orang yang senantiasa dengan gigih berusaha untuk menjadi hamba Allah yang taat dan bermanfaat. Allohu a’lam bishshowab, Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubuilaiik.

Selasa, 22 November 2011

Aktifis oh aktifis


Sebut aja JULEHA  seorang akhwat asal betawi tahun ke tiga Fakultas Ilmu Sosial di salah satu perguruan tinggi negri di jawa timur.seorang akhwat yang satu ini memiliki hobi berorganisasi,saking semangat nya berorganisasi semua kegiatan oraganisasi di libas(di ikuti) nya, dari mulai ROHIS (rohani islam) atau LDK ,BEM Fakultas. Organisasi ke islaman diluar kampus,seni budaya dan ikatan alumni SMA nya yang di bentuk oleh temen-temen semasa sma dulu..ck..Ck..CK. banyak banget YA...!!!!
Bisa kebayangkan my bro kesibukan si juleha, berangkat pagi-pagi buta, ketika ayam-ayam berkokok,dia langsung cabut dari rumah menuju kampus. pulangnya bagaimana?? jangan ditanya maghrib udah nyampe kost aja udah bagus, minimal pulang nya jam sembilan sampai tuh kostan , sampe-sampe juleha malu tuh sama gembok pintu kost.
Masa aktivis pulang nya sore sih?” “ujur juleha sambil nyengir-nyengir kuda”.
Perlu diingat loh aktifis juga manusia, buktinya orang tua juleha sering mengeluh-ngeluhkan kenapa juleha nggak pulang-pulang, sekalinya pulang paling Cuma sehari, padahal liburan nya sebulan,,heheh ngapain aja dikampus?.,belum lagi keluhan dari temen-temen kost nya, juleha sering nggak taat sama tatib yang udah di buat di kostan nya, mulai dari nyuci,menyapu mengepel bahkan masak aja nih juleha nggak bisa.,,ck..wehh..ckk,,ironis ych..ayo siapa ikhwan yang mau sama juleha????.
Selain itu juga dengan segudang dan sejuta aktifitas nya sampai tidak semapat bersenda gurau sama orang-orang terdekat nya,orang tua atau teman2 nya..hey my bro inget loh,,sesibuk-sibuk nya kita keluarga punya hak terhadap kita,
So jadi gimana cara nya dengan segudang aktifitas my bro bisa tawazun(seimbang) dengan antara aktifitas dan keluarga nya.???
Kemudian gmana cara nya biar dakwah kita dapet restu dari orang tua?.
Pertama adalah komunikasi... eh my bro jangan sekali-kali sepelekan yang nama nya komunikasi.my bro coba deh antum terbuka kepada orang tua atau sama kaka my bro tentang kondisi dakwah atau aktifitas yang my bro jalanin ,misal nya cerita kenapa harus berangkat pagi-pagi buta dan kenapa juga harus pulang malam.alangkah baiknya my bro ceritakan semua dech tuh segudang aktifitas may bro.dari mulai rapat BEM,rapat konsolidasi LDK,aksi mendukung palestine,shereing kekeluaraga kita.kalo memang kita terbuka insyaallah my bro keluarga kita akan memahami kondisi kita.dan nggak bakal timbul stetmen negatif terhadap kita.selain itu my bro komunikasiyang efektif bisa membantu kita mendidik dan memberikan pemahaman kita sama keluarga kita mana yang benar dan mana yang salah,mana yang sesuai dengan syariat dan mana yang melanggar syariat.jangan langsung2 kita bilang itu bid’ah bu nggak boleh ini bid”ah yang ada nanti malah my bro disangka ikut aliran sesat lagi,ck..ckk,ckkk..
Kedua my bro adalah menajemen waktu ini nih hal yang kelihatan nya mudah tapi sulit sekali buat di jalanin ,,padahal penting nih.,.!!!my bro harus pintar2 membagi atau memanajemen waktu.antara dikostan atau dirumah dan di kampus for exemple kalo kita maupulang malem2 kita selesaikan dulu pekerjaan pekerjaanyang adadikost ataupun di rumah seperti menyapu,ngepel nyuci piring,masak nasi,dll harus my bro selesaikan dulu.,di jamin deh mama yang sudah siap marah2 kalo kamu nanti pulang malam jadi tersenyum manis.”mungkin uang jajan my bro di tambahin..heheh(ngarep)duh baik nya mama”.
Ketiga my bro menentukan skala prioritas pernah ngak mendengar penting-mendesak, penting tidak mendesak ,tidak penting tidak mendesakkan?nahini semua my bro harus di pertimbangkan dengan baik,misalnya gini contoh besok kaka my bro mau nikahsemua anggotakeluarga wajib dateng dilahin pihak my bro mempunyai tugas menjadi sie konsumsi acara LDK misalnya.my bro harus mempertimbangkan skala prioritas mana yang lebih penting,sebener nya siekonsumispenting juga sih tapimenurut saya lamaran acara kaka lebih penting dech....inikan sekali dalam kehidupan kaka my bro,sedangkan sie konsumsi masih bisa kita wakilkan.
My broapalah arti dakwah kita jika nggakdi dukung ama keluarga.!!!!dan apalah arti nya kehebatan kita di luar jika keluarga danteman satu kost nggak ngeridhoi...jadi tawazun(seimbang) lah solusinya........^_^

Tunggu tulisan lain nya..ych...

(Serial tulisan gaul Departemen PPSDM)

PETA PERGERAKAN ISLAM DI INDONESIA

Indonesia merupakan Negara yang memiliki jumlah penduduk muslim terbanyak nomor satu di dunia. Dalam usaha menemukan jati dirinya, ditubuh umat islam di indonesia telah tumbuh dan berkembang beragam pergerakan islam sebagai usaha melakukan perubahan dan menentukan masa depannya. Perbedaan organisasi ataupun pergerakan islam berubah dari sekedar perbedaan madzab ataupun furu’iyah dalam ibadah menjadi perbedaan pada metode ataupun orientasinya. Dengan menelaah ulang konteks kesejarahan pergerakan islam Indonesia pada awal abad 20, dapat dikatagorikan dalam dua kelompok besar yaitu kelompok skeptif dan progresif.
Dari sudut pandang penulis kelompok skeptif adalah kelompok yang enggan melakukan perubahan sosial dan keagamaan, tidak melakukan transformatif ataupun ijtihad, dan memegang kuat tradisi budaya yang dalam hal ini bisa dinisbatkan pada Organisasi Islam yang mencerminkan akar rumput tradisi masyarakat Indonesia yaitu Nahdhlatul Ulama. Sedangkan disisi yang lain kelompok progresif diwakili kelompok yang menghendaki perubahan dalam tataran sosial, politik, pendidikan ataupun ijtihad keagamaan yang hal ini bisa diwakili Muhammadiyah, Persis, Syarikat Islam dan Al Irsyad. Walaupun terdiri atas beragam organisasi namun bisa dikatakan secara garis besar platform maupun ketokohan keempat organisasi tersebut masih saling beririsan secara signifikan.
Namun dipenghujung abad 20 dan memasuki abad 21, pengaruh globalisasi juga memberikan warna tersendiri pada dinamika organisasi dan pergerakan islam di Indonesia. Organisasi islam yang telah mapan secara kultural, struktural maupun institusional yaitu Nahdhlatul Ulama dan Muhammadiyah harus siap bersaing dengan dinamika pergerakan islam yang semakin berkembang dengan tumbuhnya pergerakan islam yang mengadopsi atapun menyatakan sebagai bagian ataupun cabang dari organisasi islam dari luar Indonesia. Diantaranya Hizbut Tahrir, Salafiyah, Jamaah Tabligh, Tarbiyah, ataupun gerakan bawah tanah Jamaah Jihad walaupun kurang menunjukkan eksistensinya dipermukaan.
Interaksi umat islam Indonesia dengan wacana keagamaan dan dinamikanya tidak mungkin dipisahkan dengan dinamika di luar negeri khususnya Timur Tengah. Karena bagaimanapun organisasi islam yang telah mapan seperti Nahdhlatul Ulama maupun Muhammadiyah pun terinspirasi dan bisa dikatakan mengadopsi perkembangan wacana keagamaan yang berkembang disana. Dalam tubuh Nahdhlatul Ulama sendiri pengaruh gerakan-gerakan Tarekat yang mengadopsi dari luar negeri seperti Naqsabandiyah dan Tijaniyah yang berpusat dan berkembang di Syiriah dan Mesir cukup signifikan, begitu pula pergerakan islam Al-Haramain dengan tokohnya Syaikh Muhammad Maliki yang berkembang di Nejd menjadi rujukan utama para ulama di Nahdhliyin. Sedangkan Muhammadiyah pada awal-awal berdirinya tidak terlepas mengadopsi ide-ide pembaharuan islam moderat yang dipelopori Syaikh Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Muhammad Abdul Wahab, hingga Jamaludin Al-Afghani ataupun Muhammad Iqbal. Dan dari perkembangannya Muhammadiyah sendiri sebenarnya telah cukup berkembang dan berpengaruh di negara-negara Jiran seperti Malaysia dan Singapura.
Karena itu terlalu dipaksakan apabila terkesan adanya pemisahan antara pergerakan islam Nasional dan Transnasional, dengan memaksakan pandangan yang berhak hidup dan berkembang di Indonesia dan dapat diterimat umat islam Indonesia adalah Ormas islam Asli Indonesia, sedangkan yang lainnya yang berbau TransNasional tidak layak untuk mengembangkan keorganisasian ataupun pengaruhnya di Indonesia. Apalagi Negara ini memberikan sepenuhnya hak kemerdekaan dalam berorganisasi dan menyampaikan pendapat bagi siapapun dan kelompok manapun selama masih dalam batas-batas mengakui Negara Kesatuan Indonesia dan tidak melakukan tindakan-tindakan destruktif yang merusak kepentingan nasional serta kehidupan masyarakatnya.
Selanjutnya bagaimana perkembangan Ormas-ormas ataupun pergerakan islam di Indonesia saat ini. Dalam kacamata penulis, untuk mengklasifikasikan peta pergerakan islam tidak ada salahnya mengadopsi pemetaan dinamika pergerakan islam berdasarkan model teori-teori perubahan sosial yang bersifat kemasyrakatan atau dalam paradigma sosiologi. Teori paradigma perubahan sosial dicetuskan pertama kali oleh seorang sosiolog pendidikan Brasil Paulo Freire pada era 70-an, yang kemudian berkembang dalam tataran peta paradigma sosiologi ideologis yang dikembangkan Burnell Morgan diera 80-an. Dari para analis sosiologi ini madzab perubahan sosial akan memetakan bagaimana karakter secara ideologis, metode serta sasaran yang hendak diwujudkan oleh kelompok-kelompok masyarakat yang menghendaki perubahan sosial, yang kemudian bisa dibagi kedalam 3 madzab.
Madzab pertama adalah perubahan pasif dan dominatif. Kerangka pola fikir dalam golongan ini adalah lebih dekat dengan pola gerakan salafiyah dalam pergerakan islam. Sedangkan dalam tataran metode kesadaran sosial disebut dengan kesadaran magis. Penganut madzab ini lebih dekat dengan kelompok islam yang hanya menyandarkan orientasi gerak dibidang ubudiyah dan ansih dengan dinamika politik dan sosial. Dalam pandangan ini perubahan sosial tidak mampu mengetahui hubungan atau kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya untuk melakukan perubahan sosial secara humanis maupun struktural untuk mewujudkan perubahan tatanan sosial secara global.
Organisasi islam akar rumput seperti Nahdhlatul Ulama dan kalangan tradisional serta derivatnya cukup dominan mewakili madzab ini. Karena kerangka orientasi model organisasi seperti ini adalah lebih pada upaya mempertahankan dominasi kultur dan tradisi yang telah mapan dan dianut masyarakat Indonesia, begitu pula dalam keagamaan. Sedangkan pengembangan lembaga politik, sosial  ataupun pendidikan dalam naungan Ormas ini lebih pada figuritas dan kepunyaan pribadi ketimbang kekuatan usaha Ormasnya. Sedangkan perubahan sosial yang dikehendaki masih belum kelihatan, baik secara falsafah maupun konsepnya sehingga perubahan sosial dalam pandangan ini mengikuti perubahan yang terjadi berdasarkan faktor-faktor eksternal, natural ataupun magical.
Madzab ini juga sangat dominan dianut oleh kelompok Salafiyah atau Wahabiyah yang mengadopsi madzab keagamaan dari Arab Saudi, karena pola kemasyarakatan yang pasif dan masih didominasi Kerajaan dalam politik, sehingga tidak menuntut adanya dinamika sosial politik. Selain itu Jamaah Tabligh yang begitu tradisional dalam penerapan faham keagamaan juga secara dominan mengikuti cara pandang ini.
Madzab kedua adalah perubahan Reformatif.  Dalam pandangan yang kedua ini perubahan sosial lebih dititik beratkan pada perubahan humanis, yaitu untuk membangun kesadaran individu dalam aspek manusiawi sebagai akar dari perubahan sosial yang hendak diwujudkan, sehingga juga disebut dengan perubahan sosial dengan kesadaran naif. Man power development menjadi sesuatu yang diharapkan untuk mewujudkan perubahan. Sedangkan secara struktural, mereka akan mengikuti pola dan struktur yang sudah ada dan dianggap sebagai sesuatu yang sudah baik, mapan dan benar dan akan berubah sesuai dengan karakter perubahan manusianya. Sehingga pandangan ini akan mengusahakan perubahan sosial secara reformatif.
Dalam pandangan madzab ini model pergerakan islam modern seperti Muhammadiyah dan derivatnya cukup mewakili. Dengan program pendidikan dan amal islam yang terkelola dengan baik dan dikembangkan secara progressif,  organisasi ini berusaha untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam usahanya merealisasikan perubahan kehidupan sosial, ekomnomi, pendidikan, politik  yang lebih baik. Ini dibuktikan dengan kontribusi besar para tokohnya dalam usahanya ikut serta menentukan pondasi negara ini walaupun dalam tataran nasionalisme. Sebut saja Ki Bagus Hadi Kusumo dan Kasman Singodimejo merupakan perwakilan dari kelompok islam modern, yang menjadi founding father Indonesia, ataupun Panglima besar Jenderal Soedirman yang menjadi pelopor pendirian dan pemimpin TNI, serta tokoh-tokohnya yang berhasil melakukan reformasi bidang pendidikan di negara ini.
Adapun pergerakan islam lain yang juga condong menggunakan pendekatan paradigma perubahan sosial model  ini adalah pergerakan islam Tarbiyah. Gerakan ini memiliki orientasi utama untuk membangun konsep dan struktur berdasarkan islam dalam semua bidang dengan jargonnya AlIslam huwal Hal dan dengan cakupan global, yang mereka sebut dengan Ustadziatul ‘Alam. Namun dalam tataran geraknya mereka menggunakan tahapan-tahapan perubahan yang disebut dengan Mihwar. Sehingga gerakan ini cenderung untuk melakukan perubahan secara humanis dan reformatif islam.
Pergerakan islam  ini cukup menarik untuk dicermati karena pengaruhnya yang berkembang secara signifikan. Dalam tatanan reformasi politik pergerakan ini membangun sayap politiknya melalui Partai Keadilan yang kemudian berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera, yang sekarang memiliki kemampuan politik yang cukup signifikan sebagai kekuatan partai islam terbesar. Begitu pula dalam pengembangan amal islam keagamaan, pendidikan, kesehatan dan bidang sosial lainnya dengan pendirian Pesantren, Sekolah Islam, Lembaga Sosial dan Zakat serta berbagai misi sosial dan kesehatan ataupun budaya yang cukup mewarnai. Dalam pembangunan SDM, pergerakan islam ini juga cukup dominan memberikan warna keislaman di lembaga-lembaga pusat pendidikan tinggi serta lembaga riset IPTEK nasional.
Sedangkan Madzab ketiga adalah perubahan transformatif. Dalam pandangan ini perubahan sosial dibangun dengan kesadaran kritis revolusioner. Dalam paradigma kesadaran kritis, inti permasalahan dan perubahan sosial adalah pada struktural dalam sistem tatanan sosial, politik, ekonomi, budaya dan bidang lainnya. Sehingga perubahan sosial dapat diwujudkan melalui dialektika thesa dan antithesa untuk membangun struktur yang secara fundamen baru dan terlepas dari struktur yang ada yang dianggap rusak dan penyebab ketidakadilan.
Untuk saat ini meskipun masih belum signifikan pengaruhnya tetapi pergerakan islam revolusioner seperti Jamaah Jihad yang dalam hal ini bisa terwakili oleh Majelis Mujahidin dan Ansharuttauhid bisa mewakili cara pandang perubahan sosial dalam paradigma ini. Jika kita tengok dalam sejarah panjang pergerakan islam nasional, pergerakan islam dengan model  ini sebenarnya memiliki akar sejarah yang cukup signifikan di Indonesia. Dengan latar belakang Gerakan Darul Islam DI/TII yang didirikan KartoSuwiryo pada tahun 1947, yang mampu memberikan perlawanan dengan pemberontakan yang terbesar dan terlama dalam masa-masa revolusi. Selain di sebagian Jawa Tengah dan Jawa Barat, gerakan ini juga berkembang derivatnya dengan NII yang berkembang di Aceh, Sulawesi Selatan dan Tenggara serta Kalimantan Selatan, sehingga pemberontakan untuk mendirikan Negara Islam untuk melawan pemerintahan RI dan menggantikan bentuk Negara nasionalis NKRI ini mampu bertahan tidak kurang dari 15 tahun.
Dalam bentuk perlawanan yang lebih dapat dipandang vandalisme saat ini, sisa-sisa NII yang mengatas namakan JI ataupun Al-Qaedah Indonesia, dengan pengaruh organisasi Jihad luar negeri mereka seolah-olah mendapatkan ruh baru. Dengan mengadopsi pemikiran fundamentalisme ideologis Jamaah Islamiyah yang berkembang di Mesir yang kemudian melakukan tranformasi kedalam jaringan Al-Qaedah, sempalan pergerakan organisasi jihad internasional ini ingin menunjukkan eksistensinya dengan berbagai serangan teror terhadap kepentingan-kepentingan asing di negeri ini. Selain itu dalam pandangan mereka pemerintahan yang tidak berdasarkan ideologis dan hukum islam adalah wajib dihancurkan dan diperangi.
Selain model revolusi dengan kekerasan, pergerakan islam lain yang tidak menggunakan jalur kekerasan fisik tetapi dengan revolusi pemikiran yang bisa dikatagorikan menganut paradigma perubahan transformatif revolusioner ini adalah Hizbut Tahrir. Sebagai pergerakan islam yang mengklaim sebagai partai politik internasional yang berpusat di Yordania dan diisukan hijrah ke Inggris sebagai markas pusatnya ini menunjukkan geliatnya di negara-negara demokratis Eropa, sebagian Asia Tengah serta Indonesia. Wacana dan doktrin revolusi pemikiran pergerakan islam ini dibangun dengan diskusi-diskusi, buku, booklet, ataupun selebaran-selebaran dialogis untuk memberikan pengaruh dan menanamkan keyakinannya kepada umat islam untuk mengikuti pola pikir yang mereka anut, terutama dari golongan terdidik.
Metode revolusioner dalam mewujudkan perubahan sosial yang ditempuh Hizbut Tahrir dapat dikatagorikan dalam dua jalan utama. Jalan pertama untuk melakukan revolusi struktural adalah dengan merebut kepemimpinan yang mereka sebut dengan Thulabun Nusroh, atau pencarian perlindungan. Dengan jalan lobi-lobi dan diskusi politik dengan pemimpin-pemimpin negara, masyarakat ataupun keagamaan mereka berusaha memberikan pengaruh pemikiran, sehingga diantara para pemimpin itu bersedia untuk menempuh jalan dan cara pandang mereka untuk bersama-sama mereka mewujudkan terbentuknya daulah islam Khilafah Islamiyah dan tegaknya syariat islam. Sedangkan jalan yang kedua adalah dengan Ash-Shira’ ul-Fikra untuk melakukan revolusi sosial, yaitu dengan memberikan pengaruh pemikiran secara luas kepada masyarakat bawah dengan cara menghancurkan wibawa pemerintahan, dan mempertontonkan kekurangan, kegagalan ataupun kebobrokan-kebobrokan kepemimpinan negara serta menganggap seluruh pemerintahan negeri-negeri islam saat ini adalah Darul Kufr alias dianggap Negara kafir. Hal tersebut bertujuan untuk menghilangkan kepercayaan masyarakat pada pemimpin-pemimpin pemerintahan terutama negeri-negeri islam, sehingga pada akhirnya akan mampu menggerakkan masyarakat untuk bersedia bergerak bersama HT melakukan revolusi terhadap rezim yang berkuasa.
Dari ketiga klasifikasi madzab perubahan sosial ini tidak berdasarkan nilai-nilai dogmatis keagamaan bahwasanya madzab yang yang satu lebih benar ketimbang madzab lainnya, namun lebih berdasarkan metode dan mekanisme transfer nilai yang ditawarkan dan dikembangkan masing-masing madzab. Madzab-madzab ini akan menentukan bagaimana platform pergerakan islam, kepemimpinan, serta pola fikir yang dianut pengikutnya yang menjadi nilai idealisme yang diperjuangkan untuk melakukan perubahan sosial.
Demikian mungkin sedikit gambaran peta pergerakan islam di Indonesia yang ada dari sudut pandang kacamata penulis, yang pasti silahkan pilih gerbong yang sesuai dengan hati nurani, fastabiqul khairat dan marilah berusaha introspeksi untuk senantiasa melakukan perbaikan dalam diri kita pribadi, dan menjauhkan diri dari keyakinan dan pemikiran destruktif yang justru menjauhkan islam menuju kebangkitannya, dan menghilangkan jati dirinya sebagai Rahmatan lil ‘alamin. Adapun  jika ada kesalahan yang tidak sesuai dengan fakta dan keyakinan yang dianut masing-masing pergerakan islam yang ada, penulis minta maaf dan siap untuk mengkoreksi dan merevisi tulisan singkat ini. Wallahua’lam bisshowab.

Sabtu, 05 November 2011

Realitas Keimanan dalam Kehidupan

Indonesia adalah Negara yang kaya, kaya akan sumber daya alamnya, kekayaan tambang, hutan, pertanian bahkan lautan. Kaya akan resort pariwisatanya, bali, bunaken, pulau komodo, bromo, toba, bromo, Borobudur juga prambanan. Kaya akan jumlah penduduknya, yang menurut sensus 2010 mencapai 240.271.522 jiwa. Indonesia juga kaya akan ummat muslimnya, pemeluk agama Islam di Indonesia mencapai 85,1% dari jumlah WNI keseluruhan, bahkan merupakan Negara yang memiliki jumlah warga Negara muslim terbanyak di dunia.

Tetapi jika kita perhatika secara mendalam, terdapat kondisi yang terlihat timpang disini, di negeri kita tercinta Indonesia ini. Sebagaimana telah paparkan diatas dalam kehidupan sosial, masyarakat Indonesia beriman. Mereka yakin dengan adanya Tuhan, Allah. Mereka juga melaksanakan tuntunan agamanya sesuai syari’at, sholat, zakat, puasa juga naik haji. Mereka juga yakin terhadap kerisalahan Muhammad, nabi utusan Allah, yang dengannyalah setiap umat muslim harus mengadopsi setiap sikap, tutur kata, perilaku, akhlaq. Masyarakat muslim Indonesia juga yakin terhadap adanya malaikat yang tanpa lengah terus mencatat setiap amal baik maupun buruk yang mereka perbuat. Meraka juga paham dan beriman akan takdir, kepastian akan habisnya jatah kehidupan mereka, juga hari kiamat. Mereka juga tahu selepas mereka di dunia akan dibangkitkan menuju hari perhitungan, dan semua jerih payahnya di dunia akan mendapatkan  upah yang sesuai dengan perasan keringatnya, surga atau neraka.

Namun, pada kenyataan yang ada, iman tersebut belum mampu memberikan warna dalam kehidupan keseharian mereka. Buktinya, bagaimana mungkin bangsa yang sangat banyak melakukan mujahadah, istighatsah, tabligh akbar, doa bersama, serta berbagai ritual keagamaan, tapi di lain sisi juga menjadi bangsa yang paling banyak melakukan korupsi? Bangsa yang rajin melakukan ibadah, namun juga menjadi bangsa yang rajin mengembangkan tindak kemaksiatan.
Ada banyak hal yang telah hilang dari kepribadian bangsa kita. Keimanan seakan telah kehilangan ruh yang menggerakkan. Iman hanya menjadi simbol dan ritual, tanpa esensi, tanpa isi. Padahal jika kita mau menengok keimanan masyarakat di zaman kegemilangan Islam, akan tampaklah sebuah ruh iman yang memberikan warna yang sangat jelas dalam berbagai bidang kehidupan.

Dalam menjalankan kehidupan keseharian, orang-orang beriman terdahulu senantiasa berhati-hati agar tidak  terjatuh dalam penyimpangan dan kesalahan. Lihatlah para Khalifah terdahulu, mereka telah berhasil memberikan contoh bagaimana seharusnya kehidupan orang-orang beriman. Contoh kecil dari khalifah Umar bin Abdul Aziz berikut menunjukkan bagaimana keimanan telah menjadi warna dalam kehidupan keseharian sang pemimpin.
Pada suatu hari, khalifah Umar bin Abdul Aziz kedatangan seorang tamu yang tak lain adalah bibi beliau sendiri. Sang bibi datang untuk meminta tambahan jatah dana dari Baitul Mal. Mungkin ia berpikir, karena yang menjadi penguasa adalah kemenakannya sendiri, maka akan mudah untuk meminta tambahan dana dari Baitul Mal.
Tatkala sang bibi masuk ke rumah Umar, ia melihat Amirul Mukminin ini tengah makan kacang adas dan bawang, yang merupakan makanan rakyat jelata pada masa itu. Melihat kedatangan bibinya, Umar segera menghentikan makannya. Beliau sudah mengetahui maksud kedatangan sang bibi.
“Ya Amirul Mukminin, berikan kepadaku tambahan dana dari Baitul Mal,” pinta sang bibi.
“Tunggulah sebentar,” kata Amirul Mukminin.
Umar bin Abdul Aziz kemudian mengambil satu dirham uang perak dan membakarnya di atas api. Setelah tampak panas, beliau bungkus uang perak panas tersebut dengan kain.
“Inilah uang tambahan yang Bibi minta,” kata Umar sembari menyerahkan bungkusan tersebut ke tangan sang bibi.
Begitu menggenggam bungkusan tersebut, spontan sang bibi melemparkannya sembari menjerit kesakitan karena panasnya uang perak yang telah terpanggang api.
“Kalau api dunia saja begitu panas,” kata Umar, “bagaimana dengan api akhirat kelak yang akan membakar aku dan Bibi karena menyelewengkan harta negara?”
Luar biasa kehati-hatian sang Khalifah dalam menjaga harta negara. Beliau tidak mau mengeluarkan milik negara dengan cara yang tidak benar, walaupun yang datang meminta adalah bibi beliau sendiri. Apakah yang menyebabkan beliau berperilaku seperti itu? Tidak ada jawaban lain, kecuali: iman. Ya, karena iman yang kuat terpatri dalam jiwa Khalifah, beliau menjadi lurus dan bersih dalam kehidupan.
Bagaimana dengan bangsa dan pemimpin kita? Bukankah syarat pemimpin di Indonesia haruslah beriman kepada Tuhan  Yang Maha Esa? Lalu dimanakah iman tersebut tatkala korupsi telah merajalela di negeri ini? Dimanakah letak iman pada saat kebusukan menggerogoti birokrasi, pada saat anggota dewan meminta tambahan gaji, pada saat para pemimpin mementingkan hidupnya sendiri?

Ternyata keimanan kita masih merupakan tanda tanya besar, yang setiap waktu senantiasa diuji. Sebab, iman bukan saja masalah teori, namun lebih penting lagi adalah implementasi.

-------------------------------------------------------------------------
00.01
Markas Dakwah - Masjid Kampus UTM
10 Dzulhijjah 1432
-------------------------------------------------------------------------

Jumat, 04 November 2011

LELAH, BUKAN BERARTI KALAH ATAU MENGALAH

Oleh : Yanuari Dwi Prianto

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta (TQS al-Ankabut [29]: 2-3).
Dunia ini sengaja di cipatakan oleh Allah dengan berbagai macam perhiasan untuk menyeleksi dari sekian hambanya siapa yang paling baik amalnya (QS. Al-Kahfi : 7). Sebagaimana Terjemahan Surat Al ankabut diatas, setiap insane akan diuji oleh Allah dengan kebaikan dan keburukan (QS. Al Anbiya: 35) dari Ujian ini Dia menghendaki akan adanya bukti dan terseleksi hamba-hamba-Nya yang terbaik yang layak untuk mendapat naunganNya di surga hingga bertemu denganNya, juga akan didapati generasi lemah dengan keluh kesah yang menjadi bahan bakar , penghuni neraka jahannam.
Dari ujian ini banyak sekali akan kita dapati berbagai macam keluhan, ekspresi pewakil emosi, hingga luap curahan hati. Banyak yang akan berkata lelah, merasa jengah; bosan merasa tak tahan; putus asa hingga futur menyertai jiwa.
Boleh, dan sah-sah saja tentunya jika terdapat keluhan dari rasa lelah yang tak tertahankan, karena kita manusia. Dan setiap ironi diri, itu manusiawi. Tetapi kawan, apakah kita tidak merasa bangga jika rasa lelah itu berujung surga?
Saudaraku, di jalan dakwah ini, kita tidak akan bisa mengelak dari kelelahan. Lisan kita akan lelah untuk menyuarakan kebaikan; memberikan nasehat pemacu semangat; berdzikir dengan ucapan khoir; bertegur sapa ucap salam pererat ukhuwah, persaudaran.
Mata kita akan begitu lelah di setiap pertiga malam untuk berjaga, berdzikir menikmati gelap dan gemerlap gemintang di langit kuasaNya. Tetap terjaga dalam bermunajat kepadaNya hingga fajar terpendar; kala pagi mamantau sekeliling sekitar, mencari informasi perkembangan peradaban di belantara jagad kehidupan; dan hingga siang, sore, dan malam tetap kita gunakan lelah mata ini untuk bekerja dalam kebaikan, bekerja untuk diri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama.
Lelah, akan begitu lelah tangan kita untuk senantiasa bertahan di posisi atas; berbagi dengan masyarakat yang belum terentas. Lelah dalam mengupayakan kehalalan nafkah agar hidup penuh barakah. Lelah dalam mengupayakan kebangkitan lingkungan dari kemiskinan, berpartisipasi dalam menolong korban bencana alam.
Otak dan pikiran kita akan kelelahan karena terperas untuk berpikir keras. Mempelajari ilmu-ilmu kehidupan di setiap bidangnya, politik, ekonomi, sosial, budaya, komunikasi, adab dan etika. Otak ini akan lelah dengan penuh hafalan-hafalan ayat-ayat dalam kitabNya, kalimat-kalimat teladan berbagai perawi hadist rasulNya, pengetahuan fiqih hingga luasnya tsaqofah bekal untuk hidup menuju alam akhiratNya. Pikiran ini akan penuh lelah demi beradu argumen dalam syuro’-syuro, membuahkan sebuah pemikiran untuk solusi kehidupan.
Bahkan juga jiwa kita, akan begitu lelah dalam menghadapi setiap hempasan cobaan. Bertubi masalah dan musibah, lingkup pribadi hingga negeri. Jiwa ini akan lelah untuk tetap tegar bertahan dalam setiap himpitan, permasalahan diri sendiri belum usai, kita sudah harus dengan begitu kokoh seolah menjadi pahlawan dan tokoh untuk menghadapi permasalahan dalam lingkup yang lebih universal. Begitu pula jiwa ini akan lelah untuk terus menghamba, dengan gigih melaksanakan segala perintah dan menjauhi laranganNya, yang sepele hingga sekecil apapun.
Begitulah saudaraku, setiap bagian dari unsur kehidupan tubuh kita akan merasakan sedemikian rupa sebuah rasa yang bernama lelah. Tetapi tidak akan menjadi masalah jika setiap kelelahan bagian tubuh ini kita manfaatkan sebagaimana fungsinya untuk mengupayakan kesempurnaan tugas kekhalifaan yang kita emban, karena setiap bagian tubuh itulah nanti yang akan menjadi saksi dihadapanNya(QS Yasin :65, Fushshilat :20-21). Biarlah mereka berkata “Yaa Allah, yaa Tuhanku. ketika di dunia si fulan ini telah membuatku lelah untuk bekerja di jalan dakwah, telah membuatku lelah untuk mengabdi kepada DzatMu yang suci, membuatku lelah bukan hanya untuk memperkaya amalan dirinya sendiri tapi juga toleransi dengan penuh peduli membantu sesamanya di bumi. Sungguh aku bersaksi yaa Allah pemilik nama yang Rahman dan Rahim, ia adalah hamba yang penuh ketaatan, ia adalah hamba yang penuh bakti dan kepasrahan padaMu, untuk menggapai ridhoMu, dan mencapai posisi tertinggi di sisiMu. Maka masukkanlah ia di dalam surgaMu yang penuh nikmat, terbentang sungai-sungai dibawahnya, berdampingkan bidadari yang cantik jelita.”
Lelah. Di titik inilah kebahagiaan membuncah. Pada puncak kelelahan inilah kenikmatan benar-benar kita rasakan bak bunga merekah. Usapan lembut ayat-ayat Qur’an, “Jika kamu mendapatkan luka, maka sesungguhnya merekapun mendapatkan luka yang sama”, terasa masuk ke relung jiwa. Sangat dalam, dan sangat berkesan. Sangat sejuk ungkapanNya sampai ke dalam dasar samudera jiwa, “Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka. Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.
Ketahuilah wahai saudaraku, lelah bukan berarti kalan terlebih menyerah, karena bukan hanya kita yang lelah. Jangan GR. Mereka, musuh-musuh kita juga lelah, semua juga lelah. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan lelah. Tetapi, apakah kelelahanmu di jalan kebenaran? Apakah lelahmu di jalan Kenabian? Apakah lelahmu di jalan Tuhan Yang Penyayang? Jika lelahmu di jalan Tuhan, masih adakah artinya menghitung jumlah lelah? Masih perlukah mengeluhkan kelelahan ? Masih adakah keperluanmu membuat perhitungan dengan kelelahan?

--------------------------------------------------------------------------
06.24 WIB
Masjid Nurur Rahman UTM
Sabtu, 5 November 2011
9 Dzulhijjah 1432 H
--------------------------------------------------------------------------

AGAR BISA MENIKMATI INDAHNYA DIJALAN DAKWAH

Engkau hanya memerlukan kesadaran, bahwa yang engkau lakukan seluruhnya dalam dakwah ini adalah untuk Allah. Kerjamu untuk Allah. Keringatmu untuk Allah. Waktu yang engkau habiskan untuk Allah. Harta yang engkau alokasikan dalam dakwah adalah untuk Allah. Pikiran yang engkau curahkan untuk Allah. Tenaga yang engkau sumbangkan untuk Allah.
Berjalanmu dalam melakukan semua kegiatan, berangkat dan pulangnya, untuk Allah. Dudukmu dalam mengikuti rapat dan koordinasi, untuk Allah. Suaramu saat engkau menyampaikan pendapat dan pandangan, untuk Allah. Mengawali dan mengakhiri rapat dan semua pertemuanmu, untuk Allah. Program kerja yang engkau tunaikan, untuk Allah. Berlelah-lelahmu untuk Allah. Berpagi-pagimu untuk Allah. Bermalam-malammu untuk Allah.
Engkau hanya memerlukan kesetiaan, bahwa segala yang engkau pikirkan adalah untuk Allah. Segala yang engkau kerjakan adalah untuk Allah. Segala yang engkau rancang adalah untuk Allah. Segala yang engkau inginkan adalah ridha Allah.
Engkau tidak perlu memusingkan dirimu akan mendapatkan apa dalam jalan dakwah ini, karena itu urusan Allah. Engkau tidak perlu merisaukan posisimu seperti apa dalam organisasi dakwah karena telah diatur oleh Allah. Mungkin saja engkau mengetahui ada sebagian orang yang hasad kepadamu, kepada posisimu, kepada kedudukanmu, namun engkau telah menyerahkan semuanya kepada Allah. Engkau tidak perlu menyimpan rasa iri dengki atas posisi, kedudukan, jabatan, dan harta benda yang dimiliki saudaramu di jalan dakwah, karena engkau lebih menginginkan kedudukan mulia di sisi Allah.
Engkau tidak perlu resah memikirkan omongan dan sikap orang kepadamu, selama engkau selalu bersandar kepada Allah. Engkau tidak perlu menyibukkan diri untuk berharap-harap jabatan, posisi, kedudukan, kekuasaan tertentu dalam perjalanan dakwah, karena telah dikelola oleh Allah. Engkau tidak perlu menyibukkan diri untuk mencari-cari gemerlapnya pujian dalam mengemban amanah dakwah, karena segala puji hanyalah milik Allah.
Engkau hanya perlu menyibukkan diri untuk selalu membawa kesadaran Rabbaniyah dalam segala langkah. Engkau hanya perlu menyibukkan diri untuk selalu mengingat Allah dalam segala kegiatan. Engkau hanya  perlu menyibukkan diri untuk memberikan kontribusi terbaik di jalan dakwah, dengan segala potensi dan kemampuan yang engkau miliki, karena Allah.
Engkau hanya perlu menyadari bahwa kemuliaan itu hanya milik Allah. Bukan pada jabatan, posisi, kedudukan, harta dan materi duniawi. Engkau hanya perlu memupuk dan menguatkan kecintaan kepada Allah, karena pada sisi Allah terdapat segala kekuatan dan kesempurnaan. Tidak ada orang terhina selama dia mendekat kepada Allah. Tidak ada orang mulia dalam menjauhi Allah.
Maka, resapilah setiap hari setiap saat, betapa nikmat berada di jalan dakwah ini. Karena proposalmu adalah kepada Allah, bukan kepada manusia. Proposalmu adalah kerja di jalanNya, bukan untuk posisi dunia.
Selamat menempuh jalan dakwah yang begitu nikmat, setiap waktu setiap saat.

--------------------------------------------
Original message from : Ust. Cahyadi Takariawan

Selasa, 01 November 2011

6 PERTANYAAN AL GHAZALI PADA MURIDNYA

Hari ini marilah kita ikut belajar. Menggali ilmu dari seorang Hujjatul Islam. as-Syech abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali. seorang tokoh besar dalam sejarah Islam yang kemampuan berlogikanya diakui oleh dunia bahkan berada satu tingkat di atas para filosof yunani sekelas plato dan aristoteles. Beliau adalah pengarang kitab Ihya’Ulumudin (menghidupakn kembali ilmu2 agama)sebuah referensi yang manjadi pedoman standard dan rujukan utama dalam pembelajaran Islam di seluruh dunia Islam termasuk nusantara. Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali mengajukan 6 pertanyaan. Yang bila kita hayati sangat mendalam kandungannya :

Pertanyaan Pertama,"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?".

Murid-muridnya ada yang menjawab ayah ibu kita, guru, teman, dan kerabat dan sahabat. Kemudian Hujjatul Islam al-Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. tetapi yang paling dekat dengan kita adalah ajal atau "keMATIan". Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.
Setiap kita pasti akan mendapat cobaan baik kehilangan harta, keluarga bahkan jiwa.masalah kita hanyalah menunggu giliran.kita tidak pernah tahu. Kita ataukah saudara dan orang dekat kita yang akan pergi meninggalkan kita. Semua milik-Nya dan akan kembali padanya. (QS. Al-Baqarah 155-156,
Ali-Imran :185).

Pertanyaan kedua "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?".

Murid -muridnya ada yang menjawab Kutub utara,kutub selatan, bintang-bintang planet pluto. Lalu Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban kalian benar. Tapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.Masa lalu adalah barometer kita untuk melangkah menuju masa depan. Merencanakannya dan malaksanakannya sekuat qudrah yang diberikan oleh Allah SWT. Dan berusaha menjadikan "Today is better than yesterday and tomorrow is better than today". hari ini lebih baik dari kemarin dan esok lebih baik dari hari ini.

Pertanyaan yang ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?".

Murid-muridnya ada yang menjawah gunung, bumi,dan matahari.
“Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.”

Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?".

Ada yang menjawab baja, besi, dan gunung emas dll. Semua jawaban itu benar, kata Imam Ghozali. Tapi yang paling berat adalah "memegang AMANAH" Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini.Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT,sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.(Al Ahzab 72).
dalam ayat Al-Qur’an dikatakan ”inna ALLAH ha ya’murukum an tuadduu ul amaanaata ilaa ahlihaa wa idza hakamtum baynan naasi an tahkumuu bil adli inna ALLAH ha ni’imma yaidhukum bihi inna ALLAH ha kaana samiam basyiro".(AN-NISA :58) . atau dalam mahfudzot dikatakan “kullukum ro’in wakullukum mas ulun an roiyyatihi”

Di keemasan Islam ketika khalifah Umar bin Abd Aziz salah seorang khalifah bani umayyah yang dinobatkan oleh para Ulama sebagai Khalifah Rasyidah yang kelima setelah Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. kalimat pertama kali yang keluar dari mulut beliau sesaat beliau tahu bahwa beliau didaulat sebagai khalifah adalah Inna Lillahi wa Inna Ilaihi raji’un….sangat berbeda dibandingkan saudara-saudara kita saat ini yang entah atas nama umat atau pribadi, mereka dengan terang-terangan berlomba menjadi pemangku amanat rakyat..dan sudah menjadi rahasia umum ketika seorang di antara mereka dipercaya oleh Allah menjadi pemimpin dan pengemban amanat, kalimat yang pertama kali terucap dari lisan mereka adalah Al-Hamdulillah tanpa merasa bahwa apa yang diembannya adalah sesuatu yang amat berat dan teramat sulit pertanggungjawabannya di sisi Allah.

Pertanyaan yang ke lima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?".

Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling ringan di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHOLAT. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan sholat, gara-gara syuro kita tinggalkan sholat. Karena terlena dengan hiburan, nonton TV, jalan-jalan, kita melalaikan sholat. padahal Rasulullah menegaskan dalam sabda beliau :“(Perbedaan) antara hamba dan kemusyrikan itu adalah meninggalkan sholat.” (HR Muslim dalam kitab Shohihnya nomor 82 dari hadits Jabir).

Lantas pertanyaan ke enam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?".
Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang... Benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling tajam adalah "LIDAH MANUSIA". Karena melalui lidah, Manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan
melukai perasaan saudaranya sendiri.”YOUR TONGOUE IS YOUR SELF KILLER” MULUTMU HARIMAUMU.
dalam hadist dikatakan “asrotul kodami khoirun min asrotil lisani”atau”salamatul insan fi hifdzil lisani”

Semoga kita diberi kekuatan oleh Allah untuk menjadi hamba-Nya yag slalu ingat dengan kematian karena kematian adalah sebaik-baik pelajaran.Umar berkata :
Kita menjadi orang yang pandai mengambil ibrah pelajaran dari masa lalu untuk selalu mampu mengendalikan diri dari godaan nafsu. Dan selalu berhati-hati atas amanat yang diberika kepada kita selalu menjaga sholat dan menjaga lisan kita.semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang masuk dalam barisan Rasulullah SAW masuk ke dalam syurga Firdaus-Nya.amien…

GEMA RAMADHAN (Kajian Bersama Laziz Al-Haromain Bangkalan)

Meningkatkan Iman, Bukan Hanya Resolusi Ramadhan 👳🏻‍♂️ Ust. Moh. Sofa Faudi, S.Psi. • Iman artinya meyakini dalam hati, mengucapkan dengan...